Indah
menelusurkan diri dengan barisan di depannya, lalu berdiri degan tertib.
Diperiksanya rok, baju seragam, kaus kaki, sepatu, juga semua aksesori yang
dipakainya. Jam tangan, anting-anting, gelang, cincin, dan ikat rambut yang
semua berwarna merah muda. Setelah yakin penampilannya rapi, gadis itu
tersenyum puas.
Hari ini
merupakan hari pertama Indah memulai kehidupan baru, dengan teman baru, seragam
baru, dan sekolah baru. Dalam balutan putih abu-abu, ia terlihat bersemangat
meskipun matahari nampaknya akan terik disiang hari.
Jam tujuh tepat
berbunyi, tanda upacara penerimaan siswa baru akan dimulai.
***
Jam tujuh tepat
!
Indah bersiap-siap untuk mengikuti
upacara penyambutan siswa baru. Ia memasuki barisan kelasnya yang berada di
ujung kanan lapangan. Ia terlihat bingung karena ia berdiri sendiri di belakang
dan tidak ada seorang pun disampingnya. Indah merasa sedih dan menundukan
kepalanya ke bawah, berdoa agar ada satu orang saja yang menemaninya berdiri di
sampingnya selama upacara berlangsung. Tak sengaja ia menoleh ke samping. Dilihatnya
gadis yang manis namun agak sedikit tomboi, terlihat dari aksesori kalung dan
gelang yang digunakannya berbentuk tengkorak. Gadis itu sedang berdiri di
sampingnya. Indah senang bukan main, sampai ingin meloncat kegirangan.
“Hai ! Kenalin namaku Indah Puspita
Ayu. Namamu siapa ?” sapa Indah kepada gadis tomboi.
“Aku Tama, Riski Pratama” jawab
Tama.
Indah terkejut dan hampir menertawakan nama Tama. Dalam
hati ia berkata bahwa pantas saja penampilannya seperti laki-laki ternyata
namanya juga seperti laki-laki, pasti orangtuanya ingin memiliki anank lelaki
namun malah memiliki anak perempuan. Pikirnya sambil tersenyum geli.
Obrolan Indah dan Tama tidak dapat berlangsung lama,
karena di belakang mereka ada Pak Jo – guru kedisiplinan yang suka berpatroli
ke belakang barisan untuk mengecek seluruh siswa.
***
Jam delapan kurang sedikit,
akhirnya upacara selesai. Indah langsung mengajak Tama untuk kembali ke kelas
secepatnya. Di kelas, Indah memilih untuk duduk di barisan ke tiga, karena ia
tidak suka duduk di depan dan juga tidak suka duduk di belakang. Indah meminta
Tama untuk duduk di sampingnya. Tama pun mengiyakan permintaan Indah tersebut.
***
Indah dan Tama selalu duduk
bersampingan selama satun tahun terakhir. Kini mereka memasuki tahun pelajaran
baru, kelas sebelas. Indah merupakan gadis cantik dan baik. Ia tidak pernah
merasa kekurangan karena ia terlahir dari keluarga kaya. Orangtuanya adalah
pemilik dari tambang batubara di Kalimantan. Indah juga tidak memiliki saudara
dan juga teman yang banyak. Sedangkan Tama, ia adalah anak dari keluarga
pensiunan polisi. Ayah Tama telah meninggal 5 tahun yang lalu, saat ia duduk di
bangku kelas 6 sekolah dasar. Keluarganya hidup dengan sederhana, itu yang membuat
dia tidak banyak bergaya dibandingkan dengan gadis lain seusianya.
Indah cukup terkenal dikalangan
teman-temannya, karena ia sangat mudah bergaul. Namun, sebenarnya ia sendiri
kurang paham arti dari pertemanan yang sesungguhnya. Beberapa temannya sering
meminta bantuan pada gadis lugu ini. Di hari yang terik, Indah dan Tama sedang
meminum jus buah melon dan mangga kesukaan mereka, lalu Opi – anak pedagang
gorengan di kantin – mengahampiri
merekai dengan ragu-ragu.
“Ndah, kamu bawa sepeda motor tidak
hari ini ?” Tanya Opi.
“Aku bawa Op, kenapa ya ? Jawab
Indah.
“Aku pinjam sebentar boleh tidak ya
? Soalnya barang dagangan ibuku ada yang ketinggalan di rumah.” Pinta Opi dengan
hati-hati.
“Boleh kok Op, tapi jangan lupa ya
bensin harus sama seperti sebelumnya.”
Senyum Indah.
“Makasih ya Indah.” Dibalas dengan
senyum lebar oleh Opi.
Sebenarnya Indah bisa saja membeli
bensin sendiri, namun, ia diajarkan oleh orangtunya bahwa dalam hidup,
terkadang kita harus memberi dan
menerima. Itulah yang salah ditangkap oleh Indah. Ia berkesimpulan bahwa selain
kita memberi bantuan kita juga harus mendapat imbalan atas bantuan yang kita
berikan.
***
Hari libur natal sebentar lagi,
Indah berencana untuk mengajak teman-temannya menonton film terbaru di bioskop.
Indah sangat takut bahwa di hari libur nanti, ia akan sendiri seperti biasanya
karena tidak memiliki teman dan orangtua yang sibuk bekerja. Indah berpikir
dengan mentraktir teman-temannya, ia dapat membeli waktu teman-temannya.
“Tama, Opi, liburan nanti kita ke
bioskop yuk, aku udah beli tiket loh untuk kita bertiga.” Kata Indah
bersemangat.
“Maaf Ndah, aku sepertinya tidak
bisa ikut, aku harus membantu ibu berjualan di depan stadion seperti biasa.” Jawab
Opi sedih.
“Aku juga, aku harus menemani
adikkku bermain, karena ibu harus pergi ke dokter.” Sahut Tama.
“Oh jadi seperti ini yang namanya
teman, aku sudah beli tiket loh, kalian kok gak ngertiin aku banget si. Aku
pengen main sama kalian, tapi kalau seperti ini jadinya aku menyesal punya
temen kaya kalian.” Bentak Indah pada Opi dan Tama.
Indah berlari meninggalkan Tama dan
Opi sambil menangis sejadi-jadinya. Tama dan Opi hanya bingung melihat Indah
yang dari dulu dikenalnya sekarang terasa berbeda.
“Tam, Indah kenapa ya ? Kok dia
seperti ini ?” Tanya Opi bingung.
“Aku juga tidak tahu Op, aku baru
pertama kali melihat Indah semarah ini.” Sahut Tama sedih.
***
Indah merasa sedih, ia berpikir
bahwa di dunia ini tidak ada orang yang benar-benar tulus menyayanginya. Ia
memutuskan untuk pulang ke rumah karena sakit. Sesampainya di rumah, ia
disambut oleh Mbok Ijah.
“Siang Mbak Ayu, kok tumben pulangnya
cepet ?” Tanya si Mbok hati-hati.
“Gak tau !” sahut Indah dengan nada
tinggi.
Si mbok terkejut mendengar jawaban
putrid majikannya yang sedari kecil telah dirawatnya. Ia hanya bisa mengelus
dada sambil berucap istighfar.
***
Cuaca sangat cerah di kota pelajar,
hari ini adalah hari libur natal. Indah berpikir untuk tetap menonton film di
bioskop karena tiketnya sudah terlanjur di beli. Ia memastikan diri dengan
peenampilannya, setelah yakin, ia berangkat diantar oleh Mas Jono, supir
keluarganya. Di sepanjang jalan menuju bioskop, ia teringat oleh
teman-temannya, ia merasa bahwa ia sangat egois hanya mementingkan dirinya
sendiri. Indah merasa bahwa ia tidak dapat menghargai teman-temannya. Ia sangat sedih, sampai meneteskan air mata.
***
Sesampainya di bioskop, ia duduk
sembari melihat-lihat sekeliling isi bioskop. Ia tak lupa untuk bermain dengan
Inces, telepon pintar miliknya. Indah memutuskan untuk mengambil beberapa foto
karena bioskop ini telah di hias dengan ornament natal. Tak lupa, indah juga
menguggah ke sosial media foto yang baru saja ia ambil di sebelah boneka salju.
Sedang asyik-asyiknya bermain gawai, indah mendengar suara yang sangat ia kenal
memanggil namanya.
“Indah… Indah…” teriak seseorang
dari kejauhan.
Indah yang sedikit kurang penglihatannya, dengan
ragu menebak siapa gerangan yang datang menghampirinya. Semakin dekat, semakin
jelas terlihat sosok yang tadi memanggilnya. Ternyata tidak hanya seorang saja
melainkan ada dua teman, sahabat terbaik Indah yang berlari menuju ke arahnya
sambil memanggil namanya.
“Indah maafnya ya kita terlambat”
Ucap Opi dengan napas tersengal, di tambahi dengan anggukan keras dari Tama.
“Ya ampun, kalian kok datang si ?
kalian kan ada urusan, aku gak maksa kok. Maafin aku ya, waktu itu aku egois
banget.” Kata Indah dengan tulus.
“Iya tidak apa-apa Indah, kita juga
minta maaf karena kita tidak bisa memahami dan mengerti apa yang kamu butuhkan.”
Jawab Tama dengan senyum manisnya.
Mereka berpelukan melepas rindu
setelah sekian lama tidak berjumpa. Indah sangat senang atas apa yang terjadi
hari ini. Ia dan kedua sahabatnya bisa kembali bersama meskipun sempat
terpisah.
***
Sebelum hari libur natal, Tama dan
Opi berusaha membujuk orangtuanya agar bisa keluar bersama Indah, karena Indah
sangat membutuhkan mereka. Orangtuan Tama dan Opi setuju asal tugas yang harus
mereka kerjakan di esok hari harus dikerjakan hari ini. Meski berat, Tama dan
Opi mengiyakan demi sahabatnya. Tama dengan lembutnya menjaga adiknya bermain,
dan mengajarkan menggambar pada adik kesayangannya. Opi yang dengan tlatennya
memotong tempe untuk digoreng dan djual malam nanti oleh sang ibu. Indah tidak
tahu betapa besar pengorbanan teman-temannya untuk bisa menemaninya di liburan
natal ini. Yang pasti, kini Indah berjanji akan mengubah pola pikirnya tentang
teman dan sahabat. Ia akan selalu menyayangi teman-temannya tidak peduli apa
balasan dari mereka.
***
Hari Jumat adalah hari kedisiplinan
selain hari senin. Di sekolah SMA Negeri 1, tempat sekolah Indah dan
teman-temanya, setiap hari jumat akan ada Pak Jo di depan pagar sekolah untuk
memeriksa kelengkapan siswa. Sialnya, saat itu Indah bangun kesiangan dan
terburu-buru menggunakan kaus kaki. Hari Jumat seharusnya kaus kaki berwarna
hitam, namun Indah malah memakai kaus kaki berwarna putih. Ia lupa dan ia tak
sempat berpikir untuk mengganti kaus kakinya. Indah sudah terlanjur sampai di
depan sekolah, diantar oleh Mas Jono, namun ia berada agak jauh dari pantauan
Pak Jo agar terhindar dari hukuman. Saat itu, datang si Tama dengan motor
bebeknya yang super manis seperti yang mengendarainya.
“Indah ada apa ? kok tidak masuk ke
sekolah si ? Tanya Tama heran.
“Tam tam, aku lupa hari Jumat kaus
kakinya harus hitam.” Jawab Indah malu.
“Hahaha, ayok ikut ndah, aku antar
kamu ke toko terdekat yang menjual kaus kaki.” Sahut Tama.
Setelah membeli kaus kaki hitam,
Indah langsung memakainya dan mereka langsung masuk ke sekolah tanpa ada omelan
dari Pak Jo. Indah berterimakasih pada Tama atas bantuannya pagi ini.
“Tam tam, makasih ya. Ini uang buat
gantiin bensin ya.” Kata Indah sambil menaruh uang sepuluh ribu di saku kiri Tama.
Dengan mantap Tama mengambil uang
di sakunya, dan langsung memberikannya kepada Indah, sembari berkata “Disaat
kita dengan tulus menolong orang, tidaklah harus kita menuntut balasan darinya.
Aku tidak bisa menerima uang ini Ndah, aku dengan senang hati menolongmu, bukan
aku sombong karena tidak mau menerima uangmu, tapi melihatmu bisa ku bantu
sudah membuatku senang Ndah.”.
Saat itu, hati Indah langsung
bergetar mendengar ucapan Tama. Kini semakin ia paham apa arti teman yang
selama ini telah salah ia terapkan dalam kamus pertemanannya. Dalam menjalin
hubungan dengan teman atau apapun itu, kita tidak boleh melihat hanya dari satu
sisi. Jika kita melakukan hal tersebut kita sangatlah egois karena hanya
melihat dari sisi kita. Alangkah baiknya jika kita melihat dari dua sisi, dari
sisi diri kita sendiri dan dari sisi teman, sahabat kita. Dengan begitu, kita
akan dapat saling mengerti, memahami dan menghargai sahabat kita.
--TAMAT--