Rabu, 09 November 2016

Kamus Pertemanan



Indah menelusurkan diri dengan barisan di depannya, lalu berdiri degan tertib. Diperiksanya rok, baju seragam, kaus kaki, sepatu, juga semua aksesori yang dipakainya. Jam tangan, anting-anting, gelang, cincin, dan ikat rambut yang semua berwarna merah muda. Setelah yakin penampilannya rapi, gadis itu tersenyum puas.
Hari ini merupakan hari pertama Indah memulai kehidupan baru, dengan teman baru, seragam baru, dan sekolah baru. Dalam balutan putih abu-abu, ia terlihat bersemangat meskipun matahari nampaknya akan terik disiang hari.
Jam tujuh tepat berbunyi, tanda upacara penerimaan siswa baru akan dimulai.
***
Jam tujuh tepat !
Indah bersiap-siap untuk mengikuti upacara penyambutan siswa baru. Ia memasuki barisan kelasnya yang berada di ujung kanan lapangan. Ia terlihat bingung karena ia berdiri sendiri di belakang dan tidak ada seorang pun disampingnya. Indah merasa sedih dan menundukan kepalanya ke bawah, berdoa agar ada satu orang saja yang menemaninya berdiri di sampingnya selama upacara berlangsung. Tak sengaja ia menoleh ke samping. Dilihatnya gadis yang manis namun agak sedikit tomboi, terlihat dari aksesori kalung dan gelang yang digunakannya berbentuk tengkorak. Gadis itu sedang berdiri di sampingnya. Indah senang bukan main, sampai ingin meloncat kegirangan.
“Hai ! Kenalin namaku Indah Puspita Ayu. Namamu siapa ?” sapa Indah kepada gadis tomboi.
“Aku Tama, Riski Pratama” jawab Tama.
Indah terkejut dan hampir menertawakan nama Tama. Dalam hati ia berkata bahwa pantas saja penampilannya seperti laki-laki ternyata namanya juga seperti laki-laki, pasti orangtuanya ingin memiliki anank lelaki namun malah memiliki anak perempuan. Pikirnya sambil tersenyum geli.
Obrolan Indah dan Tama tidak dapat berlangsung lama, karena di belakang mereka ada Pak Jo – guru kedisiplinan yang suka berpatroli ke belakang barisan untuk mengecek seluruh siswa.
***
Jam delapan kurang sedikit, akhirnya upacara selesai. Indah langsung mengajak Tama untuk kembali ke kelas secepatnya. Di kelas, Indah memilih untuk duduk di barisan ke tiga, karena ia tidak suka duduk di depan dan juga tidak suka duduk di belakang. Indah meminta Tama untuk duduk di sampingnya. Tama pun mengiyakan permintaan Indah tersebut.
***
Indah dan Tama selalu duduk bersampingan selama satun tahun terakhir. Kini mereka memasuki tahun pelajaran baru, kelas sebelas. Indah merupakan gadis cantik dan baik. Ia tidak pernah merasa kekurangan karena ia terlahir dari keluarga kaya. Orangtuanya adalah pemilik dari tambang batubara di Kalimantan. Indah juga tidak memiliki saudara dan juga teman yang banyak. Sedangkan Tama, ia adalah anak dari keluarga pensiunan polisi. Ayah Tama telah meninggal 5 tahun yang lalu, saat ia duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar. Keluarganya hidup dengan sederhana, itu yang membuat dia tidak banyak bergaya dibandingkan dengan gadis lain seusianya.
Indah cukup terkenal dikalangan teman-temannya, karena ia sangat mudah bergaul. Namun, sebenarnya ia sendiri kurang paham arti dari pertemanan yang sesungguhnya. Beberapa temannya sering meminta bantuan pada gadis lugu ini. Di hari yang terik, Indah dan Tama sedang meminum jus buah melon dan mangga kesukaan mereka, lalu Opi – anak pedagang gorengan di kantin –  mengahampiri merekai dengan ragu-ragu.
“Ndah, kamu bawa sepeda motor tidak hari ini ?” Tanya Opi.
“Aku bawa Op, kenapa ya ? Jawab Indah.
“Aku pinjam sebentar boleh tidak ya ? Soalnya barang dagangan ibuku ada yang ketinggalan di rumah.” Pinta Opi dengan hati-hati.
“Boleh kok Op, tapi jangan lupa ya bensin harus sama seperti sebelumnya.”  Senyum Indah.
“Makasih ya Indah.” Dibalas dengan senyum lebar oleh Opi.
Sebenarnya Indah bisa saja membeli bensin sendiri, namun, ia diajarkan oleh orangtunya bahwa dalam hidup, terkadang  kita harus memberi dan menerima. Itulah yang salah ditangkap oleh Indah. Ia berkesimpulan bahwa selain kita memberi bantuan kita juga harus mendapat imbalan atas bantuan yang kita berikan.
***
Hari libur natal sebentar lagi, Indah berencana untuk mengajak teman-temannya menonton film terbaru di bioskop. Indah sangat takut bahwa di hari libur nanti, ia akan sendiri seperti biasanya karena tidak memiliki teman dan orangtua yang sibuk bekerja. Indah berpikir dengan mentraktir teman-temannya, ia dapat membeli waktu teman-temannya.
“Tama, Opi, liburan nanti kita ke bioskop yuk, aku udah beli tiket loh untuk kita bertiga.” Kata Indah bersemangat.
“Maaf Ndah, aku sepertinya tidak bisa ikut, aku harus membantu ibu berjualan di depan stadion seperti biasa.” Jawab Opi sedih.
“Aku juga, aku harus menemani adikkku bermain, karena ibu harus pergi ke dokter.” Sahut Tama.
“Oh jadi seperti ini yang namanya teman, aku sudah beli tiket loh, kalian kok gak ngertiin aku banget si. Aku pengen main sama kalian, tapi kalau seperti ini jadinya aku menyesal punya temen kaya kalian.” Bentak Indah pada Opi dan Tama.
Indah berlari meninggalkan Tama dan Opi sambil menangis sejadi-jadinya. Tama dan Opi hanya bingung melihat Indah yang dari dulu dikenalnya sekarang terasa berbeda.
“Tam, Indah kenapa ya ? Kok dia seperti ini ?” Tanya Opi bingung.
“Aku juga tidak tahu Op, aku baru pertama kali melihat Indah semarah ini.” Sahut Tama sedih.
***
Indah merasa sedih, ia berpikir bahwa di dunia ini tidak ada orang yang benar-benar tulus menyayanginya. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah karena sakit. Sesampainya di rumah, ia disambut oleh Mbok Ijah.
“Siang Mbak Ayu, kok tumben pulangnya cepet ?” Tanya si Mbok hati-hati.
“Gak tau !” sahut Indah dengan nada tinggi.
Si mbok terkejut mendengar jawaban putrid majikannya yang sedari kecil telah dirawatnya. Ia hanya bisa mengelus dada sambil berucap istighfar.
***
Cuaca sangat cerah di kota pelajar, hari ini adalah hari libur natal. Indah berpikir untuk tetap menonton film di bioskop karena tiketnya sudah terlanjur di beli. Ia memastikan diri dengan peenampilannya, setelah yakin, ia berangkat diantar oleh Mas Jono, supir keluarganya. Di sepanjang jalan menuju bioskop, ia teringat oleh teman-temannya, ia merasa bahwa ia sangat egois hanya mementingkan dirinya sendiri. Indah merasa bahwa ia tidak dapat menghargai teman-temannya.  Ia sangat sedih, sampai meneteskan air mata.
***
Sesampainya di bioskop, ia duduk sembari melihat-lihat sekeliling isi bioskop. Ia tak lupa untuk bermain dengan Inces, telepon pintar miliknya. Indah memutuskan untuk mengambil beberapa foto karena bioskop ini telah di hias dengan ornament natal. Tak lupa, indah juga menguggah ke sosial media foto yang baru saja ia ambil di sebelah boneka salju. Sedang asyik-asyiknya bermain gawai, indah mendengar suara yang sangat ia kenal memanggil namanya.
“Indah… Indah…” teriak seseorang dari kejauhan.
Indah yang sedikit kurang penglihatannya, dengan ragu menebak siapa gerangan yang datang menghampirinya. Semakin dekat, semakin jelas terlihat sosok yang tadi memanggilnya. Ternyata tidak hanya seorang saja melainkan ada dua teman, sahabat terbaik Indah yang berlari menuju ke arahnya sambil memanggil namanya.
“Indah maafnya ya kita terlambat” Ucap Opi dengan napas tersengal, di tambahi dengan anggukan keras dari Tama.
“Ya ampun, kalian kok datang si ? kalian kan ada urusan, aku gak maksa kok. Maafin aku ya, waktu itu aku egois banget.” Kata Indah dengan tulus.
“Iya tidak apa-apa Indah, kita juga minta maaf karena kita tidak bisa memahami dan mengerti apa yang kamu butuhkan.” Jawab Tama dengan senyum manisnya.
Mereka berpelukan melepas rindu setelah sekian lama tidak berjumpa. Indah sangat senang atas apa yang terjadi hari ini. Ia dan kedua sahabatnya bisa kembali bersama meskipun sempat terpisah.
***
Sebelum hari libur natal, Tama dan Opi berusaha membujuk orangtuanya agar bisa keluar bersama Indah, karena Indah sangat membutuhkan mereka. Orangtuan Tama dan Opi setuju asal tugas yang harus mereka kerjakan di esok hari harus dikerjakan hari ini. Meski berat, Tama dan Opi mengiyakan demi sahabatnya. Tama dengan lembutnya menjaga adiknya bermain, dan mengajarkan menggambar pada adik kesayangannya. Opi yang dengan tlatennya memotong tempe untuk digoreng dan djual malam nanti oleh sang ibu. Indah tidak tahu betapa besar pengorbanan teman-temannya untuk bisa menemaninya di liburan natal ini. Yang pasti, kini Indah berjanji akan mengubah pola pikirnya tentang teman dan sahabat. Ia akan selalu menyayangi teman-temannya tidak peduli apa balasan dari mereka.
***
Hari Jumat adalah hari kedisiplinan selain hari senin. Di sekolah SMA Negeri 1, tempat sekolah Indah dan teman-temanya, setiap hari jumat akan ada Pak Jo di depan pagar sekolah untuk memeriksa kelengkapan siswa. Sialnya, saat itu Indah bangun kesiangan dan terburu-buru menggunakan kaus kaki. Hari Jumat seharusnya kaus kaki berwarna hitam, namun Indah malah memakai kaus kaki berwarna putih. Ia lupa dan ia tak sempat berpikir untuk mengganti kaus kakinya. Indah sudah terlanjur sampai di depan sekolah, diantar oleh Mas Jono, namun ia berada agak jauh dari pantauan Pak Jo agar terhindar dari hukuman. Saat itu, datang si Tama dengan motor bebeknya yang super manis seperti yang mengendarainya.
“Indah ada apa ? kok tidak masuk ke sekolah si ? Tanya Tama heran.
“Tam tam, aku lupa hari Jumat kaus kakinya harus hitam.” Jawab Indah malu.
“Hahaha, ayok ikut ndah, aku antar kamu ke toko terdekat yang menjual kaus kaki.” Sahut Tama.
Setelah membeli kaus kaki hitam, Indah langsung memakainya dan mereka langsung masuk ke sekolah tanpa ada omelan dari Pak Jo. Indah berterimakasih pada Tama atas bantuannya pagi ini.
“Tam tam, makasih ya. Ini uang buat gantiin bensin ya.” Kata Indah sambil menaruh uang sepuluh ribu di  saku kiri Tama.
Dengan mantap Tama mengambil uang di sakunya, dan langsung memberikannya kepada Indah, sembari berkata “Disaat kita dengan tulus menolong orang, tidaklah harus kita menuntut balasan darinya. Aku tidak bisa menerima uang ini Ndah, aku dengan senang hati menolongmu, bukan aku sombong karena tidak mau menerima uangmu, tapi melihatmu bisa ku bantu sudah membuatku senang Ndah.”.
Saat itu, hati Indah langsung bergetar mendengar ucapan Tama. Kini semakin ia paham apa arti teman yang selama ini telah salah ia terapkan dalam kamus pertemanannya. Dalam menjalin hubungan dengan teman atau apapun itu, kita tidak boleh melihat hanya dari satu sisi. Jika kita melakukan hal tersebut kita sangatlah egois karena hanya melihat dari sisi kita. Alangkah baiknya jika kita melihat dari dua sisi, dari sisi diri kita sendiri dan dari sisi teman, sahabat kita. Dengan begitu, kita akan dapat saling mengerti, memahami dan menghargai sahabat kita.
--TAMAT--